Empat macam nikmat
Pertama, yang bermanfaat didunia dan diakhirat, seperti ilmu dan akhlak. Ini adalah nikmat yang hakiki
Kedua, yang mudharat di dunia dan di akhirat. Ini disebut bencana yang hakiki
Ketiga, yang bermanfaat ketika itu dan mudharat di masa yang akan datang, seperti bersenang-senang dan memperturutkan hawa nafsu. Ini merupakan bencana bagi orang-orang yang berilmu, tetapi nikmat bagi orang-orang bodoh
Dan keempat, yang mudharat ketika itu tapi bermanfaat dikemudian hari, seperti obat yang sangat pahit tetapi membantu kesembuhan. Ini merupakan nikmat bagi orang-orang yang berpikir, tapi bencana bagi orang-orang bodoh.
[Ibnu Qudamah dalam Minhajul Qashidin]
Empat Bencana Bagi Orang Bakhil
Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas dari salah satu dari empat bencana yang membinasakan, yaitu:
Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya
atau hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim
atau hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan digunakan untuk kejahatan pula
atau adakalanya harta itu akan dirampas oleh pencuri dan digunakan untuk berfoya-foya pada jalan yang tiada guna
[Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq]
Tiga Sungai Pembersih Dosa
”Allah SWT telah membuat tiga sungai untuk membersihkan tubuh orang-prang yang berdosa. Jika ketiga sungai itu belum cukup maka Allah akan membersihkannya di sungai jahanam. Ketiga sungai itu adalah:
pertama, sungai Taubatan Nasuha; yaitu melepaskan segala perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
kedua, sungai Hasanaat; yaitu kebaikan-kebaikan yang akan mengubur semua bentuk keburukan.
dan ketiga, sungai Mushibah azhimah; yaitu bencana atau ujian besar yang akan melebur setiap dosa.
Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seorang hambaNya, Ia akan memasukkannya kedalam salah satu sungai tersebut, hingga ia akan datang kepadaNya dihari Kiamat dengan tubuh yang suci dan bersih, dan tidak perlu dimandikan didalam sungai yang keempat.”
[Ibnul Qayyim Al Jauziyah]
Empat Pondasi Kekufuran
Ada empat pondasi kekufuran; yaitu sombong, hasad, amarah dan syahwat. Adapun kesombongan akan mencegah orang dari ketundukan. Hasad akan mencegah orang dari mendengarkan ataupun memberi nasehat. Amarah akan mencegah dari berbuat adil. Dan syahwat akan mencegah keseriusan dalam beribadah. Jika pondasi kesombongan roboh, maka akan mudahlah ketundukan. Jika pondasi kedengkian roboh, maka akan mudahlah orang menerima nasehat. Jika tiang amarah roboh, maka akan gampanglah ia berlaku adil dan tawadhu. Dan jika benteng syahwat yang runtuh, maka akan mudahlah ia bersabar, menjaga kehormatan diri an beribadah.
[ Ibnu Qayyim Al Jauziah]
Lima Hal, Lebih Baik Dari Harta yang Diwakafkan
Petama, jangan membicarakan hal yang tidak bermanfaat bagimu, karena itu lebih utama dan dapat menjagamu dari dosa. Kedua, jangan membicarakan hal yang bermanfaat bagimu sampai kamu mendapatkan tempatnya, karena betapa banyak orang yang membicarakan suatu hal yang bermanfaat baginya, tapi ia meletakkan buka pada tempatnya, lalu ia binasa. Ketiga, jangan berdebat dengan orang yang santun dan jangan pula dengan orang bodoh, karena orang yang santun akan membencimu dan orang yang bodoh akan menyakitimu. Keempat, sebutlah saudaramu yang jauh dengan sesuatu yang engkau sukai jika ia menyembunyikannya pula darimu. Dan kelima, beramallah seperti amal seorang yang melihat amal akan dibalas dengan kebaikan dan akan dicegah dari keburukan.[ Abdullah bin abbas bin Abdul Muthalib]
Dua Macam Sifat Tamak
Tamak ada dua. Tamak yang merisaukan ( menyakitkan) dan tamak yang memberi manfaat. Adapun yang bermanfaat adalah ketamakan seseorang kepada ketaatan kepada Allah SWT. Sedang yang merisaukan adalah ketamakan seseorang kepada dunia, tersiksa dan selalu sibuk tanpa ada rasa gembira, tidak merasakan kenikmatan ketika mengumpulkannya karena kesibukannya, tidak pernah kosong kecintaannya kepada dunia diatas akhiratnya, bersusah payah untuk sesuatu yang fana dan dilengahkan dari suatu yan kekal abadi.[ Abdul Wahid bin Zaid]
Memilih Teman Karib
Orang yang engkau pilih menjadi teman karib hendaklah mempunyai lima sifat. Pertama, orang yang berakal. Karena akal merupakan modal yang utama. Tidak ada kebaikan bersahabat dengan orang bodoh, karena bisa saja dia hendak memberi manfaat kepadamu, tapi justru memberimu mudharat. Kedua, baik akhlaknya. Sebab, berapa banyak orang yang berakal tetapi dirinya lebih banyak dikuasai amarah dan nafsu, lalu tunduk kepadanya, sehingga tidak ada manfaat bergaul dengannya. Ketiga, bukan orang fasik. Sebab orang fasik tidak pernah takut pada Allah. Keempat, bukan ahli bid’ah. Persahabatan dengannya harus dihindari karena bid’ah yang dilakukannya. Dan yang kelima, tidak rakus terhadap dunia.
[ Ibnu Qayyim Al Maqdisy]
Tiga Tingkatan taqwa
Taqwa mempunyai tiga tingkatan: Pertama, melindungi anggota badan dari dosa dan hal-hal –hal yang diharamkan. Kedua, melindungi hati dan anggota badan dari sesuatu yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Tingkatan pertama akan memberikan kehidupan bagi seorang hamba Allah. Tingkatan kedua memberinya kesehatan dan kekuatan. Dan tingkatan ketiga memberinya kesenangan, kebahagiaan, dan keindahan
[ Ibnu Qoyyim]
Antara Harapan Akhirat dan Dunia
Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai harapannya, Maka Allah Akan memberi kepuasan dalam hatinya, menghimpunkan segala impiannya, dan duniapun akan mendatanginya dengan merunduk. Dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, maka Allah akan jadikan kemiskinan didepan matanya, membuyarkan segala impiannya, dan dunia takkan mendatanginya melainkan apa yang telah ditentukan baginya.[ HR. Tirmidzi]
Berani hidup harus berani dewasa. Hidup ini memang tidak mudah, tetapi alangkah tidak mudahnya hidup tanpa keberanian menjadi dewasa. Bahawa fase demi fase adalah kepastian. Setiap usia punya jenjangnya, situasinya, sulit dan mudahnnya. Tapi keberanian menjadi dewasa adalah keniscayaan yang dengannya kita lalui segala fase itu,kita kejar cita-cita akhir kita, dipuncak pengharapan akan ridha Allah SWT.
”Tidak memakai apa yang diharamkan dan bergaul dengan orang-orang shalih adalah tanda kedewasaan.”[ Ali Ahmad bin Sahal Al Busyanji]
Pemimpin Karena Ilmu
” Sekiranya orang-orang yang berilmu menjaga ilmu mereka dan meletakkannya pada orang-orang yang layak, niscaya dengan ilmu itu mereka menjadi pemimpin bagi orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka. Tetapi, dengan ilmu itu mereka mendatangi orang-orang yang memiliki dunia, sehingga merekapun diremehkan”
[ Abdullah bin Mas’ud]

|