Kisah Pejuang Kehidupan : Sabarku, sahabatku...
Oleh : Kartika Akbaria
"Aku hanya ingin belajar sabar di negeri ini, bukan semata-mata mengais uang"
[KMIT-Online] Wajahnya cerah. Aku masih ingat betul pertemuan dengannya pertama kali. Ada getaran hidayah yang auranya terasa, bukan hanya aku yang bicara, tapi juga sahabatku. Dia lugu, namun penuh semangat juang. Dia ayu, namun tidak mengobral kecantikannya. Sudah bertahun-tahun dia menyambung kehidupan di negeri Taiwan. Merawat 3 orang sekaligus dalam waktu bersamaan. Aku bisa rasakan kesabarannya dan haru perjuangannya, ketika kami berbagi dengan terkadang ditemani buliran air mata yang mengalir dari matanya. Kanthi ... Kisahnya dimulai beberapa tahun yang lalu, saat ia bekerja sebagai PRT dan mengurus seorang anak yang kekurangan dalam hal mental. Majikannya termasuk majikan yang keras, yang kerapkali melontarkan kalimat yang kurang sedap didengar bila ia melakukan kesalahan atau menyelesaikan pekerjaan dengan kurang sempurna. Beberapa saat setelah bekerja di rumah tersebut, majikan prianya sakit dan membutuhkan perawatan intensif. Mau tidak mau, tanpa pilihan, ia pun ambil bagian dalam perawatan itu ..
Aku kagum dengan perjuangannya .. Saat ia mempertahankan salat dan agamanya. Tidak banyak mba-mba lain yang seberani dia, mau dengan lantang mempertahankan pancang imannya. Setiap pekan dia usahakan lari sejenak untuk menghadiri halaqah, untuk belajar Al Quran dan mendapat setitik makanan ruh. Walau itu cuma 1/2 jam atau beberapa menit saja ...
Pertengkaran mulut hebat pernah ia lalui, saat majikan perempuan marah besar karena ada dua Tuhan di rumahnya. Tuhan majikan dan Tuhan si perempuan ayu ini. Sumpah serapah sudah biasa ia terima sejak itu, bahkan terus bertambah dan bertambah saat majikan perempuan tiba2 lumpuh, tanpa ada sebab. Jumlah yang ia rawat pun bertambah ...
Beberapa sahabatku sudah mengingatkannya, supaya kembali saja ke Indonesia ketika kontrak sudah habis. Dia punya anak dan suami yang sangat menanti kepulangannya. Saat itu aku belum berkomentar banyak, sampai suatu hari dia menelopnku.. "Mba, apa doa supaya kita tetap sabar?" Dia meneruskan, dengan isak tangis , kalo lagi-lagi kesabarannya diuji. Bukan sakit fisik yang ia rasakan, tapi serangan ke relung hati. Dan ini jelas lebih sakit ... Aku cuma tertegun, berusaha tetap tenang dan mendengarkan ceritanya dengan lengkap. Bila aku adalah dia, apakah bisa aku sesabar dia? Sekarang dia menjalani hari-harinya dengan merawat 3 orang sekaligus. Penuh dalam perawatan tangannya. Dia yakini setiap orang Allah beri rasa sayang (ujian) yang berbeda-beda sesuai kadar kemampuan. "Saya diberi ini, mungkin karena saya masih kurang sabar, mba" Itu alasannya, dan itu pilihannya. Semoga Allah memberikan keistiqamahan dan buah kesabaran untuknya Taipei, 22 Januari 2010
Kisah Pejuang Kehidupan
Diangkat dari kisah nyata para pejuang kehidupan, yang mengais rezeki di Bumi Formosa TAIWAN
Jika anda tertarik untuk berkontribusi, silahkan kirimkan naskah tulisan anda ke :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
 |