Komentar Terbaru
Ya Allah Berkahilah Kami di Bu...
Saudara kabareskrim yang semoga dimuliakan Allah, ...
Ya Allah Berkahilah Kami di Bu...
Bijaklah dalam memberi nasehat, meskipun Anda dala...
Ya Allah Berkahilah Kami di Bu...
saya yakin Allah mengahrgai kalau anda beramal mes...
Buku Tamu
Assalamu'alaikum wrwb Alhamdulillah senang sekali ...
Buku Tamu
assalamualaikum .wr.wb salam kenal tuk keluarga be...
Who's Online
We have 6 guests onlineStatistics
Members : 19Content : 220
Web Links : 11
Content View Hits : 99302
| Silaturrahmi Ustadz Habiburrahman El-Shirazy ke Chiayi dan Kaohsiung |
|
|
|
| Written by Administrator |
| Thursday, 25 February 2010 22:56 |
|
Chiayi dan Kaohsiung [KMIT-Online] Gelayut mendung yang menaungi langit Chiayi pada hari Sabtu, 20 Februari 2010, membawa Ustadz Habiburrahman El-Shirazy dan istri ke Toko Indo Wiwi, tempat Musholla Chiayi berada. Setelah mendarat di Taiwan pada hari sebelumnya dan menginap semalam di Tainan, Kang Abik, demikian panggilan akrab ustadz kelahiran 34 tahun yang lalu ini, hadir ke tengah-tengah warga muslim di Chiayi. Sayangnya karena hari Sabtu banyak teman-teman TKI yang masih harus bekerja, maka tak terlalu banyak pahlawan devisa yang datang dan menghadiri pengajian dan dialog antara para pekerja dengan penulis novel best seller Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih ini.
Pukul 10.30, sekitar 23 orang hadirin berkumpul di lokasi yang telah ditentukan. Acara pun dibuka oleh Mas Mansyur, yang beberapa hari sebelumnya resmi diangkat menjadi Ketua MTYC menggantikan Pak Abdul Rouf. Tak berlama-lama, Ustadz memulai ceramahnya. Berbalut aksen khas Jawa, Ustadz yang telah dikaruniai dua putra ini memberikan nasihat-nasihat dan semangat kepada para hadirin, khususnya teman-teman TKI. “la-in syakartum la-aziidan-nakum, wa la-in kafartum inna 'adzaabii lasyadiid" Jika kalian bersyukur [kepada-Ku dan kepada sesama manusia] maka pasti Aku akan tambah [karunia dan nikmat itu untukmu], namun jika kalian ingkar [atas nikmat yang telah diberikan, maka ingatlah!] sesungguhnya adzabku itu pedih!", kutip Ustadz. “Sedikit rizki yang diberkahi oleh Alloh itu jauh lebih baik daripada melimpah tapi tidak diberkahi oleh Alloh SWT. Berkah itu maknanya bertambah kebaikan”, tandas beliau. Demikian selama hampir dua jam, Ustadz Habiburrahman menjelaskan kepada para hadirin akan pentingnya mendapatkan rizki yang halal supaya kehidupan lebih berkah.
Sesuai kesepakatan di pengajian MTYC dua hari sebelumnya, Pak Abdul Rouf selaku sesepuh teman-teman TKI di wilayah Chiayi meminta kepada Ustadz Habiburrahman agar memberikan nama resmi untuk satu-satunya musholla di kota Chiayi tersebut. Ustadz memberikan nama Al-Iman. Sehingga resmi lah musholla yang berlokasi di lantai 3 Toko Indo Wiwi tersebut bernama Musholla Al-Iman. Acara ditutup dengan sholat dzuhur bersama.
Selepas acara di Musholla Chiayi, Ustadz Habiburrahman dan istri yang ditemani oleh dua orang anggota FORMMIT, Danurwendo A.S.W dan Bunga Primasari melanjutkan perjalanan ke selatan Taiwan. Kota pelabuhan Kaohsiung lah yang beruntung menerima kunjungan Ustadz yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo ini. Pukul 15.00, rombongan kecil tersebut sampai di Masjid Kaohsiung dengan dijemput oleh Pak Zaenal, Pak Sunarto dan Mas Muji, pemilik toko Indo dan penggiat IWAMIT.
Obrolan seputar situasi dan kondisi Indonesia menjadi topik kajian yang dilangsungkan di lantai 1 Toko Pak Zaenal ini. “Ana 'inda dloni 'abdii" yang artinya " Aku (Alloh) mengikuti prasangka hambaKu”, kutip Ustadz. “Sebagai seorang muslim dan warga negara Indonesia, kita harus melaksanakan tugas sebaik-baiknya dan tetap optimis dan berpositive thinking dengan mengesampingkan kepentingan-kepentingan kelompok atau golongan”, jelas beliau. Selain itu, Ustadz Habiburrahman juga menceritakan tentang keprihatinannya akan tayangan-tayangan tidak bermutu yang menjamur di negara kita. Latar belakang itulah yang menambah semangat Ustadz untuk turun tangan dalam menyediakan tayangan-tayangan yang lebih bermutu dan memiliki moral story yang baik. Tak terasa obrolan santai berdurasi 50-an menit tersebut harus diakhiri karena Ustadz harus segera bertolak ke Tainan lagi. Namun Pak Zaenal dan Bu Sari berinisiatif untuk mengajak rombongan tamu untuk berkeliling kota sebelum melanjutkan perjalanan ke utara. Dipilihlah Love River yang terkenal sebagai landmark kota ke dua terbesar di Taiwan tersebut. Selama dua jam, Ustadz dan istri diajak menikmati kick off lantern festival di Love River yang dipadati oleh ratusan manusia dari berbagai penjuru Taiwan. [Bunga Primasari]
All pictures taken by : Bunga Primasari |
| Last Updated on Thursday, 25 February 2010 23:15 |
Radio MIT
Login Form
Waktu Sholat
Feed Reader
- Wanita-wanita Penghuni Surga
- Hikmah Diutusnya Para Rasul (Bagian ke-1)
- Istri Din Syamsuddin Meninggal Dunia
- Wanita-Wanita Pengukir Sejarah (bagian ke-11): Maimunah
- MUI: Bank Sperma Haram, Bank ASI Boleh
- Cluster Discussion IC3T- Cluster of Economy : Quo Vadis Hubungan Ekonomi Indonesia Taiwan
- Board IC3T Raih Penghargaan Internasional IEEE
- Cluster of Engineering-IC3T “An Introduction to Semiconductor Testing”
- Cluster of Agriculture-IC3T “Orchid Breeding Technology in Taiwan”
- Cluster Discussion: Engineering














Comments
RSS feed for comments to this post.