|

Kaohsiung [KMIT-Online] Ahad, 7 Februari 2010, bertempat di basement Masjid Jami’ Kaohsiung telah dilaksanakan kursus bahasa Inggris yang pertama. Kursus yang diprakarsai oleh IWAMIT dan didukung oleh FORMMIT ini sebenarnya sudah direncanakan untuk dimulai pada awal tahun. Namun karena beberapa hal, akhirnya baru dapat terlaksana bulan Februari ini.
Selepas shalat Dzuhur, kursus yang ke depannya akan dilaksanakan tiap pekan pertama dan ketiga tiap bulannya ini, dimulai. Ke-14 orang peserta tampak siap untuk mengikuti kursus yang pada kali pertama ini ditutori oleh Bunga Primasari. Hadir pula Badariah Yosiyana, Hermala Nindya Hapsari, Nandho Rahmansyah, serta Tsulusun ArRoyan sebagai supporter dari kubu FORMMIT. Kursus bahasa Inggris yang memfokuskan pada conversation ini ditujukan untuk mengasah kemampuan peserta dalam bercakap-cakap menggunakan bahasa internasional ini. Selama kurang lebih dua jam, peserta diajak berinteraksi aktif untuk mengeja alphabet dan angka, memperkenalkan dirinya dan berdialog dengan peserta lainnya. “Sebaiknya Mbak Bunga langsung ngomong pakai bahasa Inggris saja supaya telinga kami terbiasa mendengarkan percakapan dalam bahasa Inggris, Mbak”, demikian saran Pak Misbach, salah seorang peserta, di paruh waktu kurus. Setelah menanyakan persetujuan pada peserta lain tentang saran Pak Misbach, suasana kursus berubah; interaksi semakin intensif dan peserta diajak bertanya–jawab langsung dengan tutor maupun peserta lain.
“Bahasa Inggris susah”, komentar salah seorang peserta pada akhir kursus. “Practice makes perfect, Mas”, balas Bunga. Pada awal-awal belajar, memang tidak mudah. Belajar bahasa memerlukan ketelatenan tersendiri. Berlatih dan mengulang-ulang kosakata atau kalimat menjadi kunci keberhasilan dalam mempelajari bahasa, terlebih kursus ini memang ditujukan supaya nantinya peserta mampu melakukan percakapan dua arah dengan lawan bicaranya. [bungkil]
 |