|
Taipei [KMIT-Online] Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Kendal,Jawa Tengah,diduga tewas akibat bencana topan Morakot yang menerjang Taiwan.
TKW bernama Syafaah, 20,warga Desa Tlahab,RT 02/III,Kecamatan Gemuh, itu dikabarkan tewas setelah terjatuh saat topan Morakot melanda Taiwan pekan lalu. Anak bungsu pasangan Munasir- Jumanah ini berangkat ke Taiwan lewat PT Armina Semarang, perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI), enam bulan silam. Kasi Penempatan Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kendal,Supardi, mengatakan, dia menerima informasi kejadian yang menimpa Syafaah dari PT Armina.
“Pihak PJTKI sudah siap menanggung semua biaya pengurusan pengembalian jenazah,”kata Supardi kemarin. Menurutnya, pemulangan jenazah Syafaah akan memakan waktu yang agak lama sebab aturan di Taiwan berbeda dengan di Malaysia. Di Taiwan, sebelum jenazah dibawa pulang harus ada sidang jenazah. Supardi memperkirakan berdasarkan pengalaman, pemulangan jenazah dari Taiwan akan memakan waktu sekitar 25 hari.
Bapak korban, Munasir, 50, yang ditemui di rumahnya, kemarin, membenarkan kejadian yang menimpa putri bungsunya itu. Munasir tidak bersedia diwawancarai lebih detail oleh wartawan. Bahkan,dia mengancam akan melaporkan wartawan yang nekat mewawancarainya ke polisi. “Jika ada wartawan yang nekat minta wawancara, saya harus mengusirnya dan melaporkan ke polisi. Ini pesan polisi kepada saya,” ujar Munasir.Dari tatapan mata dan raut mukanya,dia terlihat sangat shock mendengar kabar anaknya tewas di negara orang lain.
Munasir mengaku, anaknya pergi bekerja di luar negeri lewat jalur resmi. Dia yakin jenazah anaknya bisa segera dipulangkan untuk dimakamkan di kampung halaman. Berkali-kali Munasir minta wartawan tidak mewawancarainya karena khawatir teringat dengan anaknya. Ketua RT 02/III Amrozi, 25, mengaku, menerima informasi kematian salah seorang warganya tiga hari lalu.Sebelum ke Taiwan, korban tinggal di rumah suaminya di Desa Truko, Kecamatan Kangkung.
Dari informasi yang dia terima,Syafaah baru pertama kali bekerja di luar negeri. Sementara itu, terkait adanya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang menjadi korban topan Morakot, Departemen Luar Negeri (Deplu) mengaku belum bisa mengonfirmasi. Deplu akan terus melakukan koordinasi dengan perwakilan Indonesia di Taiwan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut. “Kita akan cek dulu dan masih belum bisa mengonfirmasinya saat ini.
Koordinasi dengan perwakilan di Taiwan akan terus dilakukan,” kata Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia (BHI) Deplu Teguh Wardoyo saat dihubungi Harian Seputar Indonesia (SI) kemarin. Dia mengungkapkan, hingga Jumat (14/8) pekan lalu, Deplu belum menerima laporan apa
pun terkait adanya TKI yang menjadi korban topan Morakot.“Perkembanga n bencana kan sangat cepat, jadi kita akan terus menunggu perkembangan lebih lanjut,”tambahnya.
Diketahui, akibat topan Morakot yang melanda Taiwan pekan lalu, lebih dari 21.000 orang telah dievakuasi dan hampir 5.000 orang masih tinggal di 44 tempat penampungan. Morakot menyebabkan kerugian lebih dari 11,1 miliar dolar Taiwan (USD338 juta). Wilayah yang paling parah terkena badai ini adalah Pingdong, Kaohsiung,dan Tainan. Bencana dahsyat ini membuat Presiden Taiwan Ma Ying-jeou mengucapkan permintaan maaf kedua kalinya atas lambatnya penanganan pemerintah.
Korban tewas disebutkan mencapai 124 orang. Namun, Ma Ying-jeou mengatakan, jumlah tersebut bisa saja mencapai 500 orang karena ratusan warga dilaporkan masih terkubur puing-puing rumah. Topan Morakot menyebabkan banjir terparah dalam 50 tahun terakhir. Banjir itu menerjang jalanan, merusak jembatan, dan membawa bangunan di dataran rendah ke aliran sungai.
Di sisi lain, topan Morakot bakal menjadi “badai politik” bagi Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang dinilai lambat dalam menangani bencana besar tersebut. (zaenal alimin/maesaroh/ AFP/Rtr/BBC/andika hm) |